PENDAHULUAN
Salah satu sarana pendidikan yang amat penting, tetapi bukan satu-satunya adalah perpustakaan yang harus memungkinkan para tenaga kependidikan dan para peserta didik memperoleh kesempatan untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan membaca bahan pustaka yang mengandung ilmu pengetahuan yang diperlukan. Hal ini mengandung arti bahwa dalam penyelenggaraan sekolah sebagai satuan pendidikan pada jalur formal dipersyaratkan untuk menyediakan sarana pendidikan berupa perpustakaan sekolah yang harus disesuaikan dengan perkembangan fisik, kecerdasan, intelektual, sosial , emosional, dan psikis peserta didik.
Namun dalam pelaksanaannya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah banyak mendapat kritik karena berbagai kelemahannya. Kritik ini terutama ditujukan pada peran perpustakaan sekolah itu sendiri yang belum mampu menunjang proses kegiatan belajar peserta didik secara optimal (Sulistyo-Basuki, 1991:50). Dengan segala keterbatasannya akhirnya perpustakaan sekolah hanya berfungsi sebagai pelengkap dari satuan pendidikan formal. Hal ini memperlihatkan lemahnya peran perpustakaan sekolah dalam menunjang proses belajar siswa di sekolah.
Beberapa alasan penyebab tidak maksimalnya perpustakaan dalam menjalankan tugas dan fungsinya, antara lain : (1) kurangnya pemahaman/pengertian terhadap essensi perpustakaan sebagai infrastruktur dalam menyediakan informasi (baik dari pihak kepala sekolah, guru dan siswa) (2) pengelola perpustakaan sekolah tidak optimal dalam memberikan jasa layanan terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi pemakai (3) kurang terpeliharanya komunikasi antara perpustakaan sekolah dengan masyarakat pemakainya. Secara umum kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan perpustakaan sekolah diantaranya adalah : (1) ruang perpustakaan yang tidak representatif , (2) koleksi bahan pustaka yang tidak memenuhi standar kualitas dan kuantitas, (3) terbatasnya anggaran, (4) tenaga pengelola tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola Perpustakaan, (5) rendahnya partisipasi pemakai
Oleh sebab itu perlu ada upaya untuk meningkatkan peran dan fungsi perpustakaan melalui penyediaan sumber daya perpustakaan sekolah agar kehadiran perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat pemakainya.
LAYANAN DAN PROMOSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH
Layanan Perpustakaan Sekolah
Pada hakekatnya layanan perpustakaan adalah pemberian informasi kepada pemakai dimana pemakai memperoleh informasi yang dibutuhkan secara optimal dan manfaat berbagai perkakas penelusuran yang tersedia. Adapun tujuan layanan perpustakaan adalah membantu memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi yang sesuai dengan keinginannya (Yusuf, 1994:84). Sedang fungsi layanan perpustakaan adalah mempertemukan pembaca dengan bahan pustaka yang mereka minati (Martoatmojo, 1994:6).
Layanan perpustakaan sekolah dapat dikatakan berhasil apabila terdapat pertemuan atau ‘meeting of mind’ antara apa yang ditargetkan dari sasaran pokok layanan dengan manifestasi pendayagunakan sumber-sumber dan fasilitas perpustakaan oleh para pemakainya. Oleh karenanya dalam dalam layanan pemakai menuntut adanya aktivitas dan kreativitas pustakawan untuk menentukan cara dan bentuk layanan yang bagaimanakah yang perlu digunakan agar layanan pemakai dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Keberhasilan perpustakaan dalam memberikan layanan informasi kepada pemakai sangat ditentukan oleh kompetensi dan sikap profesional dari pustakawan, disamping juga oleh kekuatan koleksi yang dimiliki dan fasilitas yang tersedia.
Pemakai Jasa Perpustakaan Sekolah
Sally Mitchell (dalam Yusuf, 1994 : 14) mengungkapkan berbagai kriteria tentang pemakai dan masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. Pemakai atau pembaca atau masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan, tidak selalu datang ke perpustakaan, meskipun sama-sama mempunyai kebutuhan yang jelas akan informasi. Karena berbagai hal, mereka tidak datang semuanya ke perpustakaan. Kelompok pemakai atau masyarakat yang dilayani ini di dunia perpustakaan dikenal dengan sebutan pemakai potensial (Potensial users). Masyarakat pengguna yang secara fisik dan mental dianggap sehat namun belum mempunyai kesempatan untuk datang ke perpustakaan, juga tergolong pada katagori pemakai potensial. Kelompok pemakai seperti ini tinggal menunggu saat yang tepat untuk datang ke perpustakaan. Dengan bantuan promosi informasi yang dilakukan oleh perpustakaan, diharapkan kelompok pemakai seperti ini bisa datang ke perpustakaan. Sedangkan mereka yang sudah datang ke perpustakaan disebut dengan pemakai aktual (actual users)
Tujuan dan Prinsip-prinsip Layanan Perpustakaan Sekolah
Dari beragam bentuk layanan yang sering disediakan oleh perpustakaan, pada dasarnya tujuannya hanya satu, yaitu membantu memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat pemakai akan informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Tujuan diselenggarakan perpustakaan pada dasarnya adalah untuk mendukung, memperlancar serta mempertinggi kualitas pelaksanaan program kegiatan lembaga induknya melalui pelayanan informasi yang meliputi 5 (lima) aspek, yaitu: (a) pengumpulan informasi , (b) pelestarian informasi), (c) pengolahan informasi, (d) pemanfaatan informasi dan , (e) penyebarluasan
Perpustakaan agar dapat dimanfaatkan secara intensif, maka diperlukan beberapa syarat yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, yaitu : (1) Adanya minat baca yang ditumbuhkan menjadi gairah baca, kegiatan baca dan kebiasaan baca, (2) Ketersediaan buku-buku yang bermutu, yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan para pemakai, (3) Adanya perpustakaan yang teratur baik (well organized), (4) Adanya keterampilan memanfaatkan perpustakaan pada para pemakai ( mengetahui cara memanfaatkan perpustakaan secara optimal), (5) Adanya keterampilan layanan dari para pustakawan (tahu cara melayani yaitu sopan, ramah, cekatan dan bertanggung jawab).
Dalam kaitannya dengan layanan pemakai, hendaknya perpustakaan bertitik tolak dari landasan pemikiran yang jelas, untuk apa pelayanan dilaksanakan ?, siapa yang harus dilayani ?, kondisi-kondisi apa yang mempengaruhi situasi layanan dan pemakai? , dan strategi umum apakah yang perlu dilaksanakan dalam layanan perpustakaan ? . Tanpa adanya pola yang jelas serta adanya wawasan yang luas tentang hal tersebut, dikuatirkan layanan pemakai akan merupakan pekerjaan rutin dan pasif semata-mata (Muchyidin,1980:20). Disamping itu dalam penyelenggaraan perpustakaan terutama dalam bidang layanan pemakai hendaknya berpedoman pada prinsip-prinsip utama layanan pemakai yaitu : (1) Berorientasi pada kebutuhan dan kepentingan pemakai, (2) Diberikan kepada pemakai atas dasar keseragaman, keadilan dan kemerataan (bersifat menyeluruh ), (3) Dilaksanakan secara optimal dan dilandasi oleh peraturan yang jelas, (4) Dilaksanakan secara cepat, tepat dan mudah melalui cara yang teratur, terarah dan cermat
Sistem layanan Perpustakaan Sekolah
Secara umum, sistem layanan perpustakaan ada dua macam yaitu layanan yang bersifat terbuka (openened Access) dan layanan perpustakaan yang bersaifat tertutup (close access). Pengelompokan ini didasarkan pada kebebasan yang diberikan oleh perpustakaan kepada pengguna perpustakaan dalam menemukan koleksi yang dimiliki perpustakaan. Kedua sistem ini pada dasarnya bertujuan untuk: (1) mengamankan koleksi perpustakaan serta menghindari atau menekan terjadinya kehilangan koleksi perpustakaan, (2) mengetahui siapa peminjam koleksi perpustakaan dan berapa jumlah koleksi yang dipinjamnya, (3) mengetahui batas waktu pengembalian buku yang sedang dipinjam (keluar sementara dari koleksi perpustakan). Masing-masing sistem layanan mempunyai kelebihan dan kelemahan.
Pemilihan sistem layanan terbuka atau sistem layanan tertutup tergantung dari beberapa faktor seperti berikut: (1) pertimbangan tingkat keselamatan koleksi perpustakaan, (2) pertimbangan jenis koleksi dan sifat rentan dari koleksi, untuk koleksi pandang dengar dan bentuk mikro pada umumnya layanan diberikan secara tertutup, (3) perbandingan antara jumlah staf, jumlah pemakai, dan jumlah koleksi. Jika jumlah pemakai sangat besar maka perpustakaan cenderung memilih sistem layanan yang bersifat terbuka, (4) luas gedung perpustakaan. Pada umumnya perpustakaan yang menempati gedung yang sangat luas dengan jumlah koleksi yang besar dan jumlah pengelola yang relatif terbatas cenderung akan menggunakan sistem layanan secara terbuka, (5) rasio antara jam layanan dengan jumlah staf perpustakaan.
Setiap sistem layanan memiliki beberapa kelebihan tetapi juga memiliki kekurangan. Berikut ini penjelasan dari masing-masing layanan.
Layanan Sistem Tertutup
Sistem layanan tertutup adalah sistem layanan layanan perpustakaan yang tidak memungkinkan pemakai perpustakaan mengambil sendiri bahan pustaka di perpustakan. Pengambilan bahan pustaka harus melalui petugas perpustakaan, demikian juga dengan pengembalian bahan pustaka yang dipinjamnya. Dalam sistem tertutup pemakai perpustakaan tidak bisa melakukan pencarian sendiri bahan pustaka, sehingga pemakai tidak bisa menemukan alternatif bahan pustaka yang dibutuhkan. Sebelum datang ke petugas pemakai perpustakaan harus tahu judul bahan pustaka yang dibutuhkan dan yang akan dipinjam dengan cara melihat pada katalog yang tersedia di perpustakaan. Pemakai mencatat nomor penempatan dan judul buku pada blanko atau secarik kertas yang telah disediakan oleh perpustakaan lalu menyerahkannya ke petugas perpustakaan. Selanjutnya petugas mencari koleksi yang diminta ke jajaran rak penyimpanan buku. Jika buku ditemukan maka petugas mencatat proses peminjaman bahan pustaka, dan jika buku tidak diketemukan maka petugas memberi tahu pemakai perpustakaan bahwa buku yang dibutuhkan sedang tidak ada di rak (sedang dipinjam).
Kebaikan layanan sistem tertutup : (1) Jajaran koleksi akan tetap terjaga kerapiannya karena hanya petugas perpustakaan yang boleh masuk ke jajaran koleksi; (2) Kemungkinan terjadi kehilangan atau perobekan dapat ditekan karena pemakai tidak dapat melakukan akses langsung ke jajaran koleksi; (3) Ruangan untuk koleksi tidak terlalu luas, karena mobilitas petugas di daerah koleksi relatif rendah; (4) Untuk koleksi yang sangat rentan terhadap kerusakan maka sistem ini sangat sesuai.
Kelemahan Layanan Sistem Tertutup : (1) dalam menemukan bahan pustaka pengguna hanya dapat mengetahui ciri-ciri kepengarangan dan ciri-ciri fisik bahan pustaka yaitu judul, pengarang, dan jumlah halaman, informasi semacam ini sebenarnya sangat abstrak, (2) judul buku tidak selalu mengambarkan makna pembahasan buku, sehingga bisa saja judul yang telah dipilih, tetapi bukan bahan pustaka tersebut yang dimaksud oleh pemakai perpustakaan, (3) pemakai tidak mungkin melakukan browsing di jajaran rak, sehingga pemakai tidak mungkin menemukan alternatif lain dari bahan pustaka yang diperlukan, (4) jika peminjam cukup banyak, dan petugas perpustakaan relatif terbatas hal ini membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk memenuhi permintaan pemakai perpustakaan dan menyiapkan bahan pustaka yang dibutuhkannya, sehingga pemakai harus menunggu lebih lama.
Layanan Sistem Terbuka
Layanan sistem terbuka adalah sistem layanan yang memungkinkan para pengguna secara langsung dapat memilih, menemukan dan mengambil sendiri bahan pustaka yang dikehendaki dari jajaran koleksi perpustakaan. Pada sistem ini pengguna perpustakaan dapat melakukan browsing bahan pustaka dari jajaran koleksi. Jika pemakai tidak menemukan bahan pustaka yang dibutuhkannya, maka ia dapat menemukan alternatif lain yang mungkin bisa menggantikan bahan pustaka yang tidak ditemukan. Sebagaimana pada layanan sistem tertutup, pada sistem terbuka pemakai harus terlebih dahulu menelusur informasi yang dicarinya melalui kartu katalog, apakah perpustakaan mempunyai koleksi yang dibutuhkan. Setelah itu barulah pemakai ke jajaran koleksi untuk mencari bahan pustaka yang ia butuhkan. Bedanya dengan layanan yang bersifat tertutup adalah jika bahan pustaka yang dicari tidak ketemu maka dalam sistem tertutup proses pencarian diulang dari awal yaitu melihat ke kartu katalog lagi untuk mencari judul lain dari bahan pustaka yang dibutuhkannya. Dalam sistem terbuka, jika pemakai tidak menemukan bahan pustaka di jajaran, maka secara langsung yang bersangkutan dapat melakukan alternatif pemilihan bahan pustaka yang tersedia di jajaran koleksi.
Kebaikan Layanan Sistem Terbuka : (1) pemakai dapat melakukan pengambilan sendiri bahan pustaka yang dikehendaki dalam jajaran rak koleksi, (2) pemakai dilatih untuk dapat dipercaya dan diberi tangung jawab terhadap terpeliharanya koleksi yang dimiliki perpustakaan, (3) pemakai akan merasa lebih puas karena ada kemudahan dalam menemukan bahan pustaka dan alternatif lain jika bahan pustaka yang dicari tidak diketemukan, (4) dalam sistem ini tenaga perpustakaan yang bertugas untuk mengambilkan bahan pustaka tidak diperlukan, sehingga bisa diberi tanggung jawab di bagian lain.
Kelemahan Sistem Terbuka : (1) ada kemungkinan pengaturan buku di jajaran rak penempatan menjadi kacau karena ketika mereka melakukan browsing. Buku yang sudah dicabut dari jajaran rak dikembalikan oleh secara tidak tepat, (2) ada kemungkinan buku yang hilang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan sistem tertutup, (3) memerlukan ruangan yang lebih luas untuk jajaran koleksi agar lalu lintas/mobilitas pemakai lebih leluasa, (4) membutuhkan keamanan yang lebih baik agar kebebasan untuk mengambil sendiri bahan pustaka dari jajaran koleksi tidak menimbulkan berbagai ekses seperti peningkatan kehilangan atau perobekan bahan pustaka.
Jenis Layanan Perpustakaan Sekolah
a. Layanan Sirkulasi
Secara definitif layanan sirkulasi dapat dijabarkan sebagai suatu kegiatan layanan pencatatan dalam pemanfaatan dan pemakaian koleksi bahan pustaka dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pemakai. Secara umum sirkulasi mengandung pengertian kegiatan peredaran koleksi bahan pustaka baik yang dilakukan didalam perpustakaan maupun keluar perpustakaan dengan tujuan : (1) memungkinkan pemakai menggunakan bahan pustaka secara tepat guna, (2) memungkinkan pemakai mengetahui bahan pustaka yang dipinjam, (3) mengetahui siapa yang meminjam bahan pustaka tersebut, (4) menjaminya bahan pustaka yang dipinjami, (5) mendapatkan data-data kwantitatif kegiatan layanan sirkulasi.
Untuk menunjang kelancaran tugas layanan sirkulasi hendaknya berasaskan sebagai berikut : (1) layanan dilakukan cepat dan tepat, (2) prosedur yang ditempuh mudah dan sederhana, (3) kepuasaan pemakai atas layanan harus diperhatikan, (4) pencatatan kegiatan dilakukan dengan tertib dan teratur. Oleh sebab itu perlu dibuatkan buku petunjuk yang memuat keterangan- keterangan mengenai : (a) peraturan pemakaian bahan-bahan perpustakaan, (b) macam-macam bahan boleh dan yang tidak boleh dipinjamkan, (c) kebijakan mengenai keterlambatan (lewat waktu), besar uang denda, penggantian buku-buku yang hilang atau rusak, (d) jam buka perpustakaan, (e) tanda-tanda pada bahab pustaka, (f) keterangan lain yang dianggap perlu untuk diketahui petugas bagian sirkulasi, petugas bagian lain atau para pemakai perpustakaan.
Buku petunjuk ini hendaknya singkat, padat informasi, dan muda dimengerti dan diikuti serta dilaksanakan. Petunjuk pemakai perpustakaan akan memudahkan para pemakai mengikuti segala peraturan serta mengurangi pelanggaran ketentuan yang berlaku. Perlu dipahami bahwa dalam layanan sirkulasi, kelancaran pelaksanaan kegiatannya bergantung kepada : (1) sistem peminjam yang dipilih, (2) petugas yang terampil, (3) peraturan peminjam yang jelas. Kesalahan dalam memilih sistem peminjaman dan tidak tersedianya petugas yang terampil serta tidak adanya peraturan peminjaman yang jelas dapat berakibat kegiatan layanan sirkulasi akan berjalan tidak efektif dan efisien.
Dari segi jenisnya, bahan pustaka yang disirkulasikan terdiri atas: (1) buku teks, ialah bahan pustaka yang berupa buku penyerta yang digunakan secara langsung dalam perkuliahan, (2) buku untuk pengembangan ilmu, ialah buku pelengkap yang digunakan untuk memperkaya dan memperkembangkan pengetahuan pemakai, (3) penerbitan berkala, ialah bahan pustaka yang berupa penerbitan yang diterbitkan pada waktu-waktu yang telah ditentukan secara teratur, (4) penerbitan sekolah, ialah semua penerbitan yang diterbitkan secara lokal oleh sekolah yang bersangkutan maupun sekolah lainnya, (5) penerbitan pemerintah, ialah bahan pustaka yang diterbitkan oleh lembaga kedinasan pemerintah, (6) bahan pustaka bukan buku, bahan pustaka yang berupa koleksi audio-visual (film, tape, cd, kaset, piringan hitam).
Dari segi penempatanya, bahan pustaka yang disirkulasikan disusun dalam ruang atau rak-rak terpisah, terdiri atas: (1) bahan pustaka umum, meliputi buku teks dan buku pengembangan ilmu, (2) bahan pustaka cadangan (reserved collection), meliputi buku teks dan buku pengembangan ilmu yang jumlah kopi setiap judulnya sangat terbatas dan tidak seimbang dengan frekuensi pemakainya, (3) bahan pustaka khusus, yang meliputi: penerbitan pemerintah, penerbitan berkala, penerbitan sekolah, dan bahan pustaka bukan buku, (4) bahan pustaka pesanan (book on reserve), yaitu bahan pustaka (baik yang umum, cadangan, maupun khusus) yang telah siap dipinjam oleh pemakai karena sudah dipesan sebelumnya.
Rangkaian kegiatan layanan sirkulasi meliputi : (1) pendaftaran anggota (2) peminjaman (3) pengembalian (4) penagihan (5) pemberian sanksi (6) pemberian surat bebas pinjam (7) statistik sirkulasi.
Layanan Rujukan
Layanan rujukan pada dasarnya adalah pemberian jawaban kepada penanya/pemakai. Seorang pemakai perpustakaan mungkin memiliki pertanyaan tentang topik atau data tertentu dan mencoba mencari jawabannya pada petugas layanan informasi/rujukan, atau pemakai tersebut meminta saran dan bimbingan dari petugas layanan rujukan dalam mencari jawaban pertanyaannya. Pustakawan dalam hal ini bertugas menjembatani antara pengunjung perpustakaan dengan koleksi perpustakaan.
Tujuan layanan rujukan adalah : (1) Memungkinkan pemakai perpustakaan menemukan informasi dengan cepat dan tepat ; (2) Memungkinkan pemakai menelusur informasi dengan pilihan yang lebih luas ; (3) Memungkinkan pemakai menggunakan koleksi rujukan dengan lebih tepat guna. Tugas layanan rujukan pada dasarnya untuk semua jenis perpustakaan adalah sama, yaitu memberikan layanan yang baik dan efisien kepada pengunjung atau pemakai perpustakan baik bersifat langgsung, misalnya menjawab pertanyaan pengunjung maupun yang bersifat tidak langsung seperti membina dan mengembangkan koleksi rujukan. Tugas layanan rujukan tersebut dapat berjalan baik apabila petugas memperhatikan pemakai yang dilayaninya. Berbeda masyarakat yang dilayani berbeda pula kebutuhannya. Disamping harus memperhatikan kebutuhan pemakai, tentu saja perpustakaan tersebut harus menyediakan sumber-sumber yang dapat memberikan informasi yang tepat kepada pengguan.
Agar layanan rujukan berjalan dengan baik, perlu memperhatikan asas berikut ini : (1) Adanya komunikasi yang baik antara petugas dan pemakai (2) Pertanyaan ditanggapi secara cepat dan dipahami secara tepat (3) Pengenalan menyeluruh mengenai koleksi dan fasilitas Perpustakaan (4) Pemanfaatan sumber informasi, baik yang ada di perpustakaan maupun di luar Perpustakaan (5) Pengetahuan mengenai kapasitas dan keterbatasan setiap sumber informasi
Ragam Kegiatan Layanan Rujukan : (1) Memberikan informasi yang bersifat umum (2) Membantu menggunakan katalog dan memberikan petunjuk cara memanfaatkannya (3) Membimbing pembaca dalam penelusuran informasi (4) Menjelaskan cara menggunakan pustaka rujukan (5) Membantu pemakai untuk menemukan pustaka yang dicarinya (6) Membuat jajaran vertikal yang berisi selipat, prospectus, brosur dan sebagainya.
Semua koleksi yang ada di perpustakaan bahkan yang ada diluar perpustakaan kalau perlu, dapat digunakan oleh petugas layanan rujukan / rujukan dalam menjalankan tugasnya memberikan informasi kepada pemakai perputakaan. Sekurang-kurangnya perpustakaan tersebut harus memiliki sember-sumber dasar (Bahan Rujukan Umum) yang terdiri dari : kamus ; ensklopedi ; katalog ; bibliografi , indeks dan abstrak ; sumber biografi ; sumber geografi ; buku petunjuk ; buku pegangan ; buku statistik ; terbitan pemerintah ;terbitan bahan-bahan internasional dan bahan-bahan rujukan lain. Bahan rujukan umum biasanya dipisahkan dari koleksi umum karena koleksi ini tidak dipinjamkan dan biasanya ditandai dengan tanda khusus, misalnya”R”.
c. Layanan Serial
Layanan serial merupakan layanan yang cukup “terbatas” khususnya bagi koleksi cetak terutama dari segi aksesnya. Pemakai hanya dapat menggunakan koleksi yang ada untuk kemudian di baca di tempat. Akan tetapi, dengan teknologi informasi saat ini, koleksi dalam bentuk elektronik atau online digital sudah dapat diakses “tanpa batas” oleh pemakai tanpa harus datang ke perpustakaan. Menurut Surachman (2008) ada beberapa jenis layanan serial , yaitu : (1) Layanan Baca, (2) Layanan Penelusuran / Temu kembali informasi. (3) Layanan Informasi Berpilih (Selective Dissemination of Information)
d. Layanan Pandang-Dengar (Audio-Visual)
Layanan pandang dengar atau audio-visual adalah kegiatan meminjamkan pustaka pandang dengar kepada pemakai untuk ditayangkan dengan bantuan perlengkapannya di dalam perpustakaan, misalnya pustaka audio-visual dengan proyektornya. Untuk keperluan kelompok, misalnya untuk mengajar atau seminar, pustaka dan perlengkapannya dapat dipinjamkan ke luar gedung perpustakaan.
Layanan pandang dengar bertujuan untuk : (1) menyediakan khusus untuk tujuan pendidikan, pengajaran, penelitian dan rekreasi, (2) memotivasi pemakai agar lebih banyak memanfaatkan fasilitas perpustakaan (3) meningkatkan kualitas penyampaian informasi dan pesan pendidikan (4) meningkatkan daya ingat pemakai melalui pustaka pandangn dengar di samping lewat bacaan.
B. Promosi Perpustakaan Sekolah
Promosi perpustakaan adalah upaya yang esensial dari pihak perpustakaan, agar hakekat dan fungsi serta tujuan perpustakaan dapat memasyarakat bagi kepentingan para pemakainya (Muchiyidin (1980:4). Wirawan (1982:2) mendiskripsikan promosi perpustakaan sebagai suatu aktivitas untuk menarik dan meningkatkan penggunaan perpustakaan. Dari aspek komunikasi, Edsall sebagaimana dikutip Sukaesih (1995) memandang promosi sebagai suatu bentuk komunikasi yang meliputi tiga aspek yaitu memberitahu (to inform), mempengaruhi (to influence) dan membujuk/merayu (to persuade).
Aktivitas promosi perpustakaan sebenarnya merupakan perwujudan dari fungsi informatif sehingga dengan adanya promosi diharapkan akan ada reaksi dari pemakai, baik aktual maupun potensial yang muncul dalam berbagai bentuk mulai dari tumbuhnya kesadaran atau tahu akan keberadaan perpustakaan, sampai kepada tindakan untuk memanfaatkannya. Tujuan promosi perpustakaan adalah untuk merubah sikap dan pandangan masyarakat terhadap perpustakaan dari yang tidak tahu atau acuh tak acuh, menjadi memahami dan menyenangi perpustakaan serta ingin memanfaatkannya.
Beberapa strategi yang bisa digunakan dalam melaksanakan kegiatan promosi perpustakaan sekolah adalah :
Menerbitkan Buku Pedoman Perpustakaan Sekolah
Buku Pedoman Perpustakaan yang dimaksud berisi informasi tentang kegiatan perpustakaan, jenis layanan, prosedur, koleksi, peraturan dan lain-lain yang berkaitan dengan aktivitas perpustakaan. Buku Pedoman Perpustakaan biasanya merupakan salah satu bab dari Buku Pedoman Sekolah yang bersangkutan, yang diterbitkan setiap tahun ajaran baru yang dibagikan kepada setiap siswa.
Penerbitan buku pedoman tersebut dimaksudkan agar semua siswa pada umumnya dan khususnya siswa baru mengetahui esensi dan eksistensi perpustakaan sehingga timbul minatnya untuk berkunjung ke perpustakaan yang pada akhirnya diharapkan dapat memanfaatkan layanan perpustakaan.
Kontak Perorangan
Promosi secara kontak perorangan dilakukan melalui pertemuan langsung antara perpustakaan dengan pemakai. Promosi dengan kontak perorangan dapat diatur sedemikian rupa sehingga mendekati kebutuhan, minat dan pribadi pemakai. Bellardo dan Waldhart (1981) mengemukakan bahwa penelitian mengenai efektifitas teknik-teknik promosi dan komunikasi di bidang kepustakawanan & informasi telah membuktikan bahwa kontak perorangan dari mulut ke mulut merupakan cara yang paling efektif untuk menyebarluaskan informasi mengenai produk dan jasa perpustakaan dan dalam hal menarik minat pemakai. Bahkan informasi dari mulut ke mulut ini ternyata lebih efektif dari pada pengiriman surat, brosur, pamflet dan sejenisnya.
Kontak perorangan sebagai salah satu teknik promosi yang dilaksanakan di perpustakaan sekolah adalah dalam bentuk ceramah mengenai pendidikan pemakai yang dilaksanakan pada tahun ajaran baru, melalui kegiatan orientasi pendidikan atau pengenalan sekolah yang menitik beratkan pada orientasi perpustakaan sekolah. Materi yang disampaikan berupa pengenalan mengenai tugas, fungsi dan peranan perpustakaan sekolah, peraturan, jenis layanan, koleksi, fasilitas dan staf dengan sasaran agar siswa memahami bagaimana memanfaatkan perpustakaan.
Menyebarkan brosur
Penyebaran brosur kepada pemakai dimaksudkan agar apa yang ada di perpustakaan sekolah diketahui oleh pemakai, sehingga dengan mengetahui keberadaan perpustakaan sekolah diharapkan akan timbul minat untuk memanfaatkan sumberdaya perpustakaan. Brosur tersebut berisi tentang kegiatan perpustakaan termasuk kekayaan yang ada didalamnya.
Penataan Kondisi Fisik Perpustakaan (Atmospheric)
Kotler (1975) mengartikan atmospheric sebagai perancangan lingkungan organisasi yang diperhitungkan sedemikian rupa, agar menimbulkan dampak kognitif dan/atau emosional kepada pasar target, sehingga meningkatkan kepuasan pada waktu membeli atau memanfaatkan produk atau jasa itu.
Penataan lingkungan perpustakaan dalam hal ini mencakup penataan interior dan eksterior, termasuk di dalamnya fasilitas yang digunakan untuk menciptakan suasana yang kondusif sehingga pemakai yang datang ke perpustakaan merasa senang, tenang dan nyaman. Untuk memberikan kegairahan sekaligus suasana yang segar, pada jam tertentu dialunkan musik-musik lembut yang tidak mengganggu bahkan disukai oleh pemakai pada saat belajar di perpustakaan.
Melaksanakan Kegiatan Pendidikan Pemakai
Pendidikan pemakai adalah kegiatan membimbing atau memberikan petunjuk kepada pemakai dan calon pemakai agar mampu memanfaatkan sumberdaya yang ada di perpustakaan. Tujuan pendidikan pemakai adalah : (1) meningkatkan keterampilan pemakai agar mampu memanfaatkan kemudahan dan sumberdaya perpustakaan secara mandiri (2) membekali pemakai dengan teknik yang memadai dan sesuai untuk menemukan informasi dalam subyek tertentu; (3) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya dan layanan perpustakaan; (4) mempromosikan layanan perpustakaan; (5) menyiapkan pemakai agar dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK.
Dalam pelaksanaan kegiatan promosi, seringkali perpustakaan diperhadapkan dengan berbagai kendala, diantaranya : (1) Perpustakaan kurang mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas layanan, (2) Lokasi kurang strategis dan gedung kurang representatif, (3) Masyarakat akademis belum memandang secara benar terhadap tugas, fungsi dan peranan perpustakaan sekolah.
Untuk mengatasi kendala-kendala yang dihadapi dalam promosi perpustakaan sekolah perlu ada upaya untuk meyakinkan kepala sekolah tentang essensi perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dengan sasaran melalui penyediaan sumber daya Perpustakaan sekolah.
PENUTUP
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam meningkatkan pemberdayaan perpustakaan sekolah, perlu dilakukan promosi perpustakaan yang diintegrasikan dengan program sekolah. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dibangun kerjasama sinergis dengan berbagai pihak sehingga pelaksanaan promosi perpustakaan diharapkan bisa berjalan dengan efektif. Disamping itu petugas perpustakaan secara proaktif harus dapat meyakinkan semua komponen sekolah tentang pentingnya perpustakaan sebagai penyedia informasi bagi proses pembelajaran, terutama kepada unsur pimpinan sekolah sehingga pengembangan perpustakaan sekolah dapat dijadikan prioritas program sekolah. Oleh sebab itu perpustakaan sekolah perlu dikelola secara benar dan profesional dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas sumberdaya internal sehingga upaya memenuhi kebutuhan pemakai dapat terwujud yang pada akhirnya pemakai mendapat kepuasan.
DAFTAR PUSTAKA
Darmono. 2001. Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.
Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 1994., Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Dirjen Dikti-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Kotler, Philip. 1975. Marketing for Non Profit Organization. Englewood Cliffs. New Yersey : Prentice-Hall
Martoadmojo, Karmidi. 1994. Pelayanan Bahan Pustaka. Jakarta : Universitas Terbuka
Mucyidin, Ase. 1980. Promosi Perpustakaan. Bandung : Sub Proyek P3T Universitas Padjadjaran.
Mustafa, Badollahi. 1994. Bahan Rujukan Umum. Jakarta : Universitas Terbuka
Soeatminah. 1987. Pendidikan Pemakai Perpustakaan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Sukaesih. 1995. Materi Perkuliahan Pemasaran Jasa Informasi : Suatu Pengantar.. Bandung : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Surachman , Arif. Pelayanan Terbitan Berseri: Sebuah Pengenalan. http://arifs.staff. ugm.ac.id/mypaper/terbitan_berkala.doc. diakses 2 Januari 2008
Wirawan. 1982. Cara-cara Promosi Perpustakaan Universitas. Lokakarya Penggunaan Media Teknologi Untuk Promosi Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : (s.n)
Yusuf, Pawit M. 1994. Jasa Layanan Perpustakaan dan Informasi. Bandung : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar